Langsung ke konten utama

Tiada Rotan Akarpun Jadi ?

Tiada akar rotanpun jadi. Begitu bunyi sebuah peribahasa. Jika tidak ada yang baik, maka yang kurang baik pun dapat digunakan. Pisau bisa kita gunakan untuk memotong kertas jika tidak ada gunting, misalnya. Daun pisang pun bisa kita pakai sebagai pelindung kepala ketika hujan, jika tak ada payung. Tetapi bagaimana jika kertas yang harus kita potong mempunyai bentuk yang rumit? Tentu saja pisau tidak menghasilkan potongan sesempurna gunting. Bagaimana pula jika hujan turun cukup lebat? Daun pisang lebih mudah robek dan tidak dapat difungsikan lagi. 

Beda dengan kehidupan jasmani. Peribahasa 'tiada rotan akar pun jadi' tidak seharusnya menjadi prinsip kita dalam menjalani kehidupan rohani. Mendirikan 'bangunan Allah' di dalam diri kita membutuhkan bahan-bahan yang berkualitas. Kita tidak dapat menggunakan bahan pengganti secara sembarangan. Kristus adalah satu-satunya pondasi yang ditempatkan oleh Allah. Kita tidak bisa menggantikannya dengan yang lain, termasuk hamba Tuhan atau nabi Tuhan sekalipun. Alkitab sebagai tuntunan kita tidak bisa digantikan dengan buku-buku rohani atau ucapan pengkhotbah. Berdoa tidak bisa diganti dengan mengupdate status di media sosial. Beribadah dan bersekutu dengan orang percaya di gereja tidak bisa digantikan dengan kita mendengar khotbah di dunia maya. 

Bangunan yang tahan uji adalah yang terbuat dari emas, perak dan batu permata. Sedangkan bangunan yang terbuat dari kayu, rumput dan jerami hanya bersifat sementara. Untuk membangun iman yang kokoh dan berkualitas kita tidak dapat menggunakan 'jerami'. Jerami itu bisa berupa hal-hal di atas ataupun hikmat manusia yang mudah terbakar. Kita harus membangunnya dengan kekuatan hikmat Allah [1 Kor 2:13]. Tiada rotan akar pun jadi. Tapi bagaimanapun juga kayu, rumput dan jerami tidak bisa menggantikan emas, perak dan batu permata, bukan? Mari kita dirikan kehidupan yang berkualitas dan teruji. 

Oleh : Pdt. Andreas P. Chandra , GIA Dr. Cipto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBANGUNAN ROHANI YANG SEJATI

    Istilah KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) sudah menjadi istilah yang begitu akrab ditelinga orang Kristen dari berbagai denominasi dan organisasi. Istilah ini muncul dan menjadi ciri khas dari gereja-gereja beraliran Pentakosta dan Kharismatik sejak tahun 70-an dan menjadi istilah yang akrab sekitar tahun 1990-an hingga kini. Karakteristik ibadah-ibadah dalam KKR meliputi khotbah yang ringan dan impresif, penyembuhan massal, pujian dan penyembahan, ibadah yang tidak terikat liturgi, pembahasan mengenai kuasa Yesus, pengusiran roh-roh jahat, pengurapan dengan minyak, kotbah perihal akhir zaman dan kekudusan, bahkan ajaran perihal Teologi Sukses atau Teologi Kemakmuran yang biasa disebut Teologi Anak Raja. Namun demikian apakah hakikat Kebangunan Rohani itu? Benarkah kebaktian-kebaktian KKR yang merebak sekitar tahun 1990-an hingga sekarang merupakan kebangunan rohani yang sejati? Sebelum kita membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut, ki...

Telah Kudengar Doa dan Permohonanmu

Renungan minggu ini menggambarkan bagaimana suasana hati raja Salomo yang penuh dengan kebahagiaan,sukacita karena keberhasilannya menyelesaikan mendirikan rumah Tuhan dan istana raja. wajarlah dia bahagia karena untuk mewujudkan hal tersebut raja Salomo membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya,membutuhkan biaya yang cukup besar,membutuhlan waktu dan tenaga yang cukup besar. Di sela-sela kebahagiaannya itu,Tuhan menampakkan diri kepadanya untuk kedua kalinya. Pesan Tuhan kepadanya ialah untuk menegaskan bahwa semua doa dan permohonannya sudah dijawab oleh Tuhan. Apa saja doa dan permohonan raja salomo dalam perikop ini? 1. Menguduskan Rumah Tuhan Kekudusan rumah Tuhan itu terletak pada kehadiran Tuhan di dalam rumah Tuhan (gereja), ada kemuliaan Tuhan yang menyelimuti rumah ibadah tersebut. Oleh karena itu kita harus menjaga kekudusannya. Suatu kali Tuhan Yesus pernah marah karena rumah-Nya dijadikan pasar dan tempat sarang penyamun/penjahat. Dalam amarah-Nya Ia mengatakan "ada ...

Bila Badai Terjadi

Baca: Mazmur 29:1-11 "Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar." (Mazmur 29:3) Ketika berada di dalam badai, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu siapa dan apa penyebabnya. Maka dibutuhkan sebuah kepekaan rohani. Bila badai terjadi karena kesalahan dan kelalaian sendiri, segeralah intropeksi diri. Ketika ditegur Natan perihal perselingkuhannya dengan Batsyeba, yang mengakibatkan anak yang dilahirkan mati, segeralah Daud berdoa,  "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!" (Mazmur 51:3-4).